master audio

master audio

Manusa Yadnya

Manusa yadnya adalah korban suci yang bertujuan untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir bathin manusia, mulai dari terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir hidup manusia.
Bagi seseorang yang tinggi kekuatan batinnya, pembersihan dapat dilakukan sendiri melalui yoga samadhi secara tekun dan disiplin. Sedangkan mereka orang pada umumnya memerlukan bantuan orang lain melalui upacara-upacara dan upakara tertentu.
Pembersihan secara lahir batin dianggap perlu agar manusia dapat menerima petunjuk-petunjuk suci dari Hyang Widhi. Dengan demikian selama hidupnya tidak menempuh jalan yang sesat dengan mempelajari dharma, sehingga setelah kematian rohnya dapat mencapai kesucian dan menuju asalnya yaitu Hyang Widhi.
Dalam pancasrada, umat hindu percaya dengan adanya reinkarnasi, menjelma kembali ke dunia untuk meluruskan jalan hidupnya terdahulu sehingga tercapai suatu keadaan yang sempurna yaitu tidak lahir kembali ( mencapai moksa ).
Dalam lontar Cilakrama ada sloka yang berbunyi:

Adbhir gatrani cudhayanti
Manah satyena cudhayanti
Widyatapobhyam bhrtatma
Buddhir jnanena cudhyanti 
Artinya adalah:
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.

Rangkaian upacara manusa yadnya
Ada empat rangkaian dalam manusa yadnya yang tidak dapat dipisahkan, dalam artian rangkaian upacara tersebut akan selalu ditemukan dalam upacara manusa yadnya.

Mabiyakala / mabiyakaonan
Tujuannya adalah memberikan kurban kepada bhutakala, yang tidak sepatutnya berada atau menerima upacara berikutnya.Setelah mereka mendapat kurban, mereka akan pergi meninggalkan orang atau tempat tersebut dan tidak mengganggu lagi, bahkan mereka memberi restu dan keselamatan. Hal ini dapat dilihat saat natab banten biyakala tangan diarahkan ke belakang . Upacara ini dilakukan di halaman rumah atau sanggar, menghadap ke pintu halaman rumah.

Malukat / mejaya-jaya
Yang paling kecil disebut penglukatan, yang sedang disebut pedudusan alit, dan yang utama disebut pedudusan agung. Tingkatan tersebut disesuaikan dengan banten tataban dan pasaksi di Sanggar Surya. Tujuan upacara ini adalah untuk membersihkan lahir batin seseorang, lahir dibersihkan dengan air dan bathin dibersihkan dengan puja-puja dari pemimpin upacara. Beberapa jenis tirta dalam upacara ini adalah tirta penglukatan, tirta pabersihan, tirta padudusan dll yang dipuja oleh peminpin upacara. Upacara ini dilakukan di salah satu paruman di pemerajan atau salah satu bangunan rumah seperti bale daje atau bale gede.

Natab / ngayab
Upakaranya disebut banten tataban, yang terdiri dari beberapa buah banten. Kumpulan banten itu disebut sorohan, misalnya sorohan sesayut pengambian, sorohan bebangkit dll. Dalam pelaksanaannya banten itu dipersembahkan kepada dewa-dewa tertentu, agar beliau berkenan merestui atau menempati banten tersebut. Kemudian banten itu akan ditatab oleh orang yang akan diupacarai. Tujuannya adalah agar Dewa itu berkenan merestui dan menempati jasmani orang bersangkutan sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Jasmani kita sebetulnya ditempati oleh Dewa-dewa tertentu seperti hati oleh Dewa Brahma, jantung oleh Dewa Iswara, empedu oleh Dewa Wisnu , usus oleh Dewa Rudra dll. Makanya saat natab banten tangan diarahkan ke dada/ ke badan.

Muspa / bersembahyang
Upacara ini dibagi menjadi dua bagian:
  1. Muspa yang dilakukan setelah mebiyakala ( sebelum upacara sebenarnya ). Tujuannya adalah memohon wara nugraha / pesaksian bahwa seseorang akan melakukan sesuatu upacara. Persembahyangan ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan kehadapan para leluhur.
  2. Muspa yang dilakukan setelah upacara natab. Tujuannya adalah untuk menghubungkan diri kehadapan Hyang Widhi dan para leluhur.
Upacara diakhiri dengan mohon wasuhpada sebagai simbol bahwa Beliau telah berkenan berada pada diri orang tersebut.  Wasuh artinya pencuci, sedangkan pada artinya kaki. Jadi wasuhpada dijadikan simbol air untuk mencuci kaki padma Hyang Widhi.

Segehan

Segehan biasanya dilakukan untuk upacara bhuta yadnya yang sederhana, yaitu pada saat hari kliwon, kajeng kliwon, purnama, tilem, rerahinan alit di sanggah, pagerwesi, Saraswati. Biasanya segehan ini dihaturkan kepada Bhuta bucari, Kala Bhucari, dan Durga Bhucari di lingkungan rumah. 

Segehan Kepel
Alasnya dipakai sebuah taledan ( tangkih ) dari daun pisang, diatasnya diisi dua kepel nasi puith, ikannya bawang jae dan garam.
Diatasnya ditaruh atau dilengkapi dengan canang genten ( canang biasa ).  Jumlah nasi disesuaikan dngan keinginan begitu pula warnanya disesuaikan dngan maksud dan tujuan yang disuguhkan, Bisa  warna putih kuning atau menjadi empat warna seperti  hitam , merah, putih dan kuning.

Segehan Cacahan
Alasnya dipakai taledan ( daun pisang ) , diatasnya diisi 6-7 tangkih, lima buah diisi nasi putih , satu  diisi bijaratus ( lima jenis biji-bijian : jagung, jagung nasi, jawa, godem dan jali ), dan satu tangkih diisi beras sedikit, base tampel benang putih, dan uang kepeng. Sebagai lauk pauknya adalah bawang, jae dan garam. Kemudian dilengkapi dengan sebuah canang genten.  Nasi dari segehan ini dapat pula diwarnai sesuai keperluan.  

Segehan Agung
Sebagai alasnya dipakai sebuah tempeh yang cukup besar,  diatasnya diisi 11 atau 33 tangkih, masing masing diisi dengan nasi putih serta lauknya bawang , jae dan garam.  Kemudian dilengkapi dengan sebuah daksina atau alat perlengkapan daksina itu ditaruh begitu saja ditempat tersebut tidak dialasi dengan bakul dan kelapanya tidak dikupas sampai bersih. Segehan ini dilengkapi dengan sebuah canang payasan dan 11 atau 33 canang genten/biasa ditambah dengan jinah sandangan. Untuk menghaturkan banten ini disertai dengan penyambleh ayam kecil/ itik/ babi yang belum dikebiri ( kucit butuan ) yang masih hidup. Waktu menghaturkan segala perlengkapan yang ada pada daksina itu dikeluarkan sedangkan telur dan kelapanya dipecahkan diikuti dengan pemotongan / penyambleh dan akhirnya tetabuhan.
Segehan Agung dipergunakan untuk upacara yang agak besar atau kadang dipergunakan untuk upacara mendak Ida Bhatara, upacara pengukuran tempat bangunan atau palinggih, ataupun peletakan batu pertama pada saat membuat bangunan suci.

Canang Genten

Dalam persembahyangan sehari-hari maupun hari raya, canang adalah prasarana yang mutlak diperlukan untuk memusatkan pikiran dan wujud persembahan yang tulus kehadapan Bhatara ataupu Dewa. Sebagai sarana sederhana dapat dipakai canang genten. Adapun canang genten sebagai alasnya dipakai janur atau daun pisang, dan bentuknya segi empat. Kemudian diatasnya ada porosan dari sirih, kapur serta pinang lalu diikat dengan tali porosan ( dibuat dari janur ).
Diatasnya lagi diisi empat bunga dari janur, yang berbentuk kojong / tangkih, dan akhirnya barulah diisi bunga-bunga, pandan harum, serta wangi-wangi / minyak wangi.


Arti simbolis yang terkandung dalam canang ini adalah:
  • Palawa melambangkan ketenangan atau kesucian
  • Reringgitan / alas canang melambangkan kesungguhan hati
  • Sirih melambangkan Hyang Wisnu
  • Kapur melambangkan Hyang Siwa
  • Pinang melambangkan Hyang Brahma
  • Tali porosan melambangkan manunggalnya Brahma Wisnu Siwa atau menjadi Sang Hyang Widhi
  • Bunga melambangkan ketulusan hati
  • Pandan Harum / wangi-wangi merupakan alat pemusatan pikiran ke arah kesucian
Canang genten ini dapat dipergunakan pada setiap rahinan seperti kliwon, kajeng kliwon, purnama, tilem dan sebagai inti dari upacara besar lainnya. Walaupun kelihatan sederhana namun memiliki makna yang sangat mengagungkan.

Kajeng Kliwon

Pada setiap hari kliwon, umat hindu di Bali mengadakan upakara di rumah maupun di beberapa tempat sesuai adat masing-masing. Adapun penjelasannya diambil dari Cundarigama.

Pancawara Kliwon
Mwah ana manut Pancawara Kliwon ngaran, samadhin bhatara Siwa, kawenangnia anadah wangi ring sanggah, mwang luhuring haturu, meneher aheningana cita, wehana sasuguh  ring natar sanggar mwah dengen, dening: segehan kepel kekalih dadi atanding, wehana pada tigang tanding. Ne ring natar sambat Sang Kala Bhucari, ne ring sanggar sambat Sang Bhuta Bhucari, ring dengen sambat Durga Bhucari. Ikang wehana laba nangken kliwon, saisinia, dan sama hanemu rahayu, paripurna rahasya.
Artinya :
Dan pada hari pancawara, yakni setiap datangnya Hari Kliwon adalah saatnya beryoga Bhatara Siwa, sepatutnya pada saat yaang demikian, melakukan peenyucian dengan menghaturkan wangi-wangi bertempat di pemerajan, dan diatas tempat tidur, sedangkan yang patut disuguhkan di halaman rumah, ialah segehan kepel 2 kepel menjadi satu tanding, dan setiap tempat tersebut diatas disuguhkan 3 tanding yakni : di halaman sanggar kepada Bhuta Bhucari, di dengen kepada Durga Bhucari, untuk di halaman rimah kepada Kala Bhucari. 
Adapun meksud memberikan laba setiap hari Kliwon, ialah untuk menjaga pekarangan serta keluarga semuanya mndapat perlindungan dan menjadi bahagia.

Byantara Kliwon
Kunang ring byantara kliwon, prakrtinia kayeng lagi,  kayeng kliwon juga, kewala metambehing sege warna, limang tanding, ring samping lawang ne ring luhur; canang wangi-wangi, burat wangi, canang yasa, astawakna ring Hyang Durgadewi, ne ring sor, sambat Sang Durga Bhucari, Kala Bhucari, Bhuta Bhucari, phalania rahayu paripurna wwang maumah, yen tan samangkana ring Bhatara Durgadewi angrubeda ring wwang adruwe umah, angadeken gring mwang angundang desti, teluh, sasab mrana, amasang pamunah, pangalak ring sang maumah, mur sarwa Dewata kabeh, wehaken manusa katadah dening wadwanira Sang Hyang Kala, pareng wadwanira Bhatara Durga. Mangkana pinatuhu, haywa alpa ring ingsun.
Artinya :
Lain lagi pada hari Kajeng Kliwon, pelaksanaan widhiwidananya, seperti halnya pada hari kliwon juga, hanya tambahannya dengan segehan warna 5 tanding, yang disuguhkan pada samping kori sebelah atasnya, ialah: canang wangi-wangi, burat wangi, canang yasa dan yang dipuja adalah Durgadewi. Yang disuguhkan dibawahnya, untuk Sang Durga Bhucari, Kala Bhucari, Bhuta Bhucari, yang maksudnya berkenan memberikan keselamatan kepada penghuni rumah. Sebab kalau tidak dilakukan sedemikian rupa, maka Sang Kala Tiga bhucari akan memohon lelugrahan kepada Bhatara Durga Dewi, untuk merusak penghuni rumah, dengan jalan mengadakan/ menyebarkan penyakit, dan mngundang para pengiwa, segala merana-merana, mengadakan pemalsuan-pemalsuan, yang merajalela di rumah-rumah, yang mngakibatkan perginya para Dewata semua, dan akan memberi kesempatan para penghuni rumah disantap oleh Sanghyang Kala bersama-sama dengan abdi Bhatara Durga. Demikianlah agar disadari, dan jangan menentang pada petunjuk kami.

Galungan Dan Kuningan

Sumber : Lontar Cundarigama

Redite paing Dunggulan
Tumurun Sang Hyang Tiga Wisesa, marupa kala, ngaran Sang Bhuta Galungan, marep anadah anginum maring madyapada, Matangnia Sang wiku mwang Sang Sujana, dan pratyaksa juga pasekung kumekas ikang adnyana nirmala, lamakane tan kasurupan dening Sang Bhuta Galungan, samangkana maka ngaraning penyekeban dening lokan.
artinya :
Uku dunggulan, yakni pada hari redite pahing, disebutkan, bahwaa Sang Hyang Tiga Wisesa turun kedunia dalam wujud Kala, dan disebut Bhuta Galungan, yang ingin memakan dan ingin minum di dunia ini, oleh karena itu, orang-orang suci, demikian pula orang sujana ( bijaksana ), hendaknya waspada serta mengekang dirinya kemudian memusatkan pikirannya ke arah kesucian, agar tiada kemasukan oleh sifat-sifat yang membahayakan dari pengaruh Sang Bhuta Galungan, dan hal demikian disebutlah hari Penyekeban.

Coma Pon Dunggulan
Pangantuwayaning hamong yoga samadhi maka pituhunia sadgana lawan Bhatarayata ngaran Penyajan turah ning loka.
artinya :
Pada hari coma pon adalah hari untuk melakukan yoga samadi, dengan mmusatkan pikiran untuk menunggalnya dengan Bhatara-bhatara. Itulah sebabnya, mengapa pada hari itu disebut Penyajaan oleh umatnya.

Anggara Wage Dunggulan
Penampahan ngaran, niata panadah ira Sang Bhuta Galungan, marmaning pesanggrahan dening prakreti ring Desa, Wehana Bhuta yadnya riheng catuspata, sarupaning yadnya wenang, manut anista, madya uttama, pinuja dening Sang Pandita juga, ngawostonakna: siwabudha, sire wenang. Kunang sakweh ikang sanjata, prayascitaken, jaya-jaya de Sang Pandita tekeng jadmania, apania prakosa pratameng. Wehakna Paracaru ring sakuren-kuren kunang dening: sege warna 3, sinasih, tandingania manut hurip, petak 5, bang 9, ireng 4. Iwaknia olahan bawi, saha tabuhan, segehan agung 1. Genahin Guru ring natar umah, ring sanggar, mwang ring dengen. Sambat Sang Skala Niskala, phalania jaya prakosa ring paprangan.
artinya :
Pada hari Anggara wage, disebutlah hari penampahan. Pada hari itulah Sang Bhuta Galungan memangan. Oleh karena itu patutlah dilakukan penyelenggaraan hidangan oleh desa adat, dengan korban caru kepada bhuta-bhuta, bertempat di perempatan jalan desa adat. Adapun korban yang diberikan kepada bhuta-bhuta, bntuknya bermacam-macam, yakni dari sederhana, sedang dan besar. Dan yang patut memuja ialah para sulinggih, untuk memohon kepada hyang. Yang dimaksud sulinggih yakni Pedande Siwa Budha, Rsi karena beliaulah yang berwenang dalam hal ini.
Lain daripada itu, segala senjata perang, patutlah semuanya dipuja, dengan upacara pesucian oleh para sulinggih. Tambahan pula bagi orang-orang kebanyakan, upacara-upacara tersebut bermanfaat untuk mendapat pahala kekuatan utama dalam perjuangan hidup.
Yang patut disuguhkan pada masing-masing pekarangan rumah adalah: segehan warna 3, ditaburkan menurut neptu, yakni Putih 5, hitam 4, merah 9, dagingnya olahan babi, tetabuhan, disrtai segehan agung 1. Adapun tempat melakukan caru ialah di natar pekarangan rumah, di sanggah, dan di muk pekarangan rumah. Yang patut dihayat dalam menghaturkan caru itu adalah Sang Bhuta Galungan. Sedang yang patut di hayap oleh anggota keluarga ialah banten pabyakala, prayascita, dan sesayut, untuk mendapat kesuksesan dalam perjuangan hidup, skala niskala ( lahir bathin ).

Buda Kliwon Dunggulan
Ngaran kalingania, patitis ikang adnyana galang apadang, tary ya haturakna Widhiwidanania ring sarwa Dewa ring sanggar parhyangan, paturwan, natar, lumbung, perantnan, dengen, tumbal, tugu, pengulun setra, pangulun desa, pangulun sawah, wana, giri, samudra, telas tekang prabot ing umah, ika kabeh pada binantenan, prakreti ring sanggar, parhyangan, agng alit: Tumpeng payas, wangi-wangi, sesucen munghahakna ring anggarika, banten ring sambyangan, tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan, sodan mwang saka runtutania, iwak jatah bawi, asep astanggi, telas mangkana, jenek awengi, nyejer banten ika kabeh, enjang-enjang.
Artinya :
Disebut Buda kliwon Dunggulan, keterangannya ialah untuk memusatkan pikiran yang suci bersih, disertai dengan menghaturkan upacra prsembahan kpada para Dewa-Dewa, di sanggar Parhyangan, tempat tidur, pekarangan, lumbung, dapur,  di muka pekarangan rumah, tugu, tumbal, pangulun setra, pangulun desa, pangulun sawah, hutan , munduk, lautan, sampai pada perlengkapan rumah, semuanya itu diadakan sesajen dengan suguhan yang dilakukan di Sanggar Parhyangan menurut besar kcilnya sebagai berikut: 
Tumpeng payas, wangi-wangi, sesucen, itulah yang disuguhkan di sanggar. Adapun banten dibalai-balai ialah tumpeng pngambean, jerimpen, pajegan, sodaan, dan perlngkapannya. Sedangkan dagingnya ialah jejatang babi, serta asap dupa harum. Setelah selesai semuanya itu diupacarakan maka biarkanlah semalam, banten itu semuanya jejerang, sampai besok pagi.

Redite wage Kuningan
Pamaridan guru, pekenania mantuk akan dewata kabeh, maring suarga kahyangan, Sang kesepania, Dewa lunga aning galaken kadirgayusan. Widhiwidana: anam banjotan, canang raka, wangi-wangi, patirtha gocara.
Artinya :
Pada redite wage, disebut pemaridan guru, pada hakekatnya ialah saat kembalinya para Dewata semuanya menuju kahyangan, para dewata prgi dengan meninggalkan kesejahteraan, panjang umur. Maka upacaranya adalah: menghaturkan ketipat banjotan, canang raka-raka, wangi-wangi serta menikmati tirta pabersihan.

Coma Kliwon Kuningan
ngaran pemacekan agung, ring sudyankalania, masegehan agung ring dengen, masemblh ayam semalulung, pakanania angideraken Sang Bhuta Galungan teken subalanira.
Artinya:
Pada soma kliwon disebutlah pemacekan agung. Pada sore harinya patut melakukan segehan agung di muka halaman rumah, dan memakai tumbal ayam semalulung yang disuguhkan kepada Sang Bhuta Galungan dan para abdinya agar tidak mengganggu.

Budha Pahing Kuningan
Pujawali bhatara Wisnu, widhiwidananya: sedah ingapon, putih, ijo, jambe 26, tumpeng ireng, saha dulurania saka sidhan, hartawakna ring paibon, dulurania puspa wangi sakramania.
Artinya :
Buda pahing Kuningan ialah hari pemujaan kepada Bhatara Wisnu, maka upacaranya adalah: sirih dikapuri, putih, hijau, dan pinang 26, disertai tumpeng hitam serta runtutannya menurut kemampuan, dan dihaturkan kepada Bhatara di Paibon, dan disertai pula bunga-bunga harum sebagaimana mestinya.

Saniscara Kliwon Kuningan
tumurun muah wateking Dewata kabeh mwang Sang Dewa Pitra, anyuci laksana neher amuktya banten. Widhiwidana : sege ring selanggi, tebog saha raka dena sangkep, pasucen, canang wangi-wangi saruntutania, agantungana sawen tamyang, mwang gegantungan caniga, ring treptepan sarwa wewalungan. Hawya amuka bebanten kelangkahan tajeg Sanghyang Aditya, asuk juga kawengania, hapan yan tajeg Sanghyang Surya, Dewata amor ring swarga.
Kunang pengaci ning manusa : sesayut prayascita luwih,  ngaran sege jenar, iwak itik putih, nyeneng tetebus, pekenania angeningaken cita nirmala, tan pengating samadi, wehakna pasuguh ring natar pasuguh agung 1.
Artinya :
Pada saniscara kliwon Kuningan, turunlah lagi para Dewata serta Sang Dewa Pitra ( Leluhur ), untuk melakukan pesucian lalu menikmati upacara bebantenan yakni; sege dan selenggi, tebog, serta raka-raka selngkapnya, pebersihan, canang wangi-wangi serta runtutannya, dan menghaturkan sawen tamyang dan gegantungan caniga, sampai pada tempat segala binatang ternak. Janganlah menghaturkan banten setelah lewat tengah hari, melainkan seyogyanyalah pada hari masih pagi, sebab kalau pada tengah hari, Dewa-Dewa telah kembali ke sorga.
Lain daripada itu, yang patut dipakai mndoaka manusia ; sesayut prayascita luwih, yaitu sege jenar, itik putih, penyeneng, tetebus, yang gunanya untuk memohon kesucian pikiran, yang suci bersih dan tidak putus-putusnya melakukan yoga samadi. Juga patut dilakukan pesegehan di natar, yakni segehan agung 1.



Hari Raya Nyepi

Sumber: Lontar Cundarigama

Tilem Kesanga
Atta ring cetra masa, Tilem Kunang, sasucening watek Dewata Kabeh, hana ring telenging samudra, met sarinning amrta kamandalu, yoga mwang kabeh ngaturaken puja krti, ring sarwa Dewata, keyeki kramania. Catur daci ikang krsna paksa, agawyakna Bhuta Yadnya , rikang catus pataning desa, nistania pancasata, madyana pancasanak, utamania Tawur Agung Yamaraja, pinuja dening Sang Maha Pandita, siwa budha sakawu-kawu kunang sega mancawarna, 9 tanding, iwak sakta brumbun rinancana, saha tabuh tok, arak, genahing acaru ring dengen, sambut Sang Bhutaraja mwang Sang Kalaraja. Mwang balapan sasah 108 tanding iwaknia jejeron mentah, segehan agung 1, sorenia glarakna ikang tawur kabeh, ring lwang nikang dauh kala, nga. Telasing tawur, ngrupuk, nga, ika mantukakna ikang Bhuta kala kabeh angunduraken sasab mrana. Crana obor-obor, gni saprakpak, sembur, maswi, mantra dening sarwa tatulak wisya, mwang penyengker agung, iderin saumah dening geni ika, telas mangkana ikang mwang sajalwistrinia, abyakalan ing natar, ayabin sesayut pamyakala, lara melaradan prayascita. Enjangnia anyepi mati geni ika tan wenang anyambut karya salwirnia, mwang agni-agni kunang, ri saparaning genahnia. Gelarakna yoga samadhi.
artinya:
Tersebutlah menjelang sasih kesaanga, yang disebut Cetramasa, terutma pada bulan mati / tilem adalah hari untukbersucian para Dewa semua, di laut, guna menikmati inti hakikat air suci kehidupan abadi. Karena itu seyogyanyalah orang-orang menghaturkan puja bakti kehadapan para Dewata, dengan tata cara sebagai berikut: Pada panglong ping 14 sasih kesanga, hendaknya melakukan upacara mecaru/ bhuta yadnya diperempatan desa pekraman. Adapun tingkatannya adalah sekecil-kecilnya dengan caru pancasata ( ayam 5 ekor ), tingkatan menengah dengan pancasanak ( dasar caru ayam 5 ekor, ditambah itik bulu sikep sebagai ulu ), sedangkan dalam tingkatan utama ialah tawur agung ( Panca walikrama ), yang memakai Yamaraja. Bhuta yadnya tersebut dipuja oleh Sang Maha Pandita ( Pedanda, Rsi, Empu ). 
Dalam pekarangan rumah dilakukan upacara pasuguh-suguh, yang berbentuk segehan mancawarna, banyaknya sembilan tanding, dengan ikan ayam brumbun yang diolah, petabuh tuak dan arak. Adapun caru tersebut diupacarakan di dengen ( di muka pekarangan rumah ), yang disuguhkan kepada Sang Bhutaraja, Sang bhutakala, dan Kalabala diberi suguhan dengan segeh nasi sasah 108 tanding, berisi jeroan mentah, serta segehan agung satu tanding. Pada menjelang sanikala/sore sepatutnya tawur itu dilakukan semuanya. Apabila tawur itu selesai, barulah dilakukan Pangrupukan, inilah suatu jalan upacara yang bertujuan daapat mengembalikan Bhutakala serta membatalkan semua usahanya membuat marabahaya. Adapun alat-alatnya adalah melakukan obor-obor dengan api saprakpak, sembur maswi dengan diantar puja mantra penolak bala, mantra penyengker agung, dengan mengelilingi pekarangan perumahan dan membawa api/obor. Setelah selesai melakukan obor-obor, maka orang-orang dalam keluarga baik laki maupun perempuan melakukan upacara abyakala ditengah pekarangan serta natab sesayut pamyakala, lara malaradan dan prayascita.
Keesokan harinya, lakukan sipeng, amati geni, amati karya, amati lelungaan dan amati lelanguan. Yang penting diperhatikan, bagi mereka yang mendalami ajaran brata smadi, patut melakukan yoga samadi pada hari itu.

Bhuta Yadnya

Bhuta yadnya adalah korban suci yang bertujuan untuk membersihkan alam beserta isinya dan memelihara serta memberi penyupatan kepada para bhutakala dan mahluk-mahluk yang dianggap rendah dari manusia, seperti jin, peri, setan, binatang dan sebagainya. Tujuan pembersihannya adalah menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada pada mahluk-mahluk itu dan pembersihan pada alam akibat pengaruh negatif dari mahluk tersebut. Dengan melakukan upacara bhuta yadnya maka sifat-sifat kebaikan dan kekutan dari mahluk itu dapat berguna bagi kesejahteraan manusia. Dalam bhuta yadnya , juga terkandung pengertian usaha penyupatan terhadap mahluk-mahluk rendah, sehingga mereka menjadi mahluk yang dinaikkan derajatnya untuk menjalani karmanya. 

Manusia adalah mahluk paling utama yang mampu memahami alam ini sebagai ciptaan dari Hyang Widhi. Sehingga upacara bhuta yadnya yang dilakukan ,akan menjadikan para bhuta itu menjadi manusia , yang nantinya mampu memahami karma wasananya sendiri. Oleh karena itu, menjadi manusia adalah hal pertama yang harus disyukuri, karena kita mampu menelaah dan mampu mendekatkan diri sepenuhnya kepada Hyang Widhi. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan di dunia ini hanya untuk mementingkan segala hawa nafsu, kerjakanlah segala sesuatunya didasari atas dharma.

Upacara bhuta yadnya ini dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan tujuannya. Hendaknya melakukan bhuta yadnya didasari atas ketulusan serta disesuaikan dengan tingkat ekonomi kita. Janganlah memaksakan suatu upacara dengan berlebihan yang hanya mementingkan rasa ego yang berlebihan. Sesuaikan dengan tingkatan nista , madya dan utama. Berdasarkan pada sasaran dari bhuta yadnya itu maka ada bhuta yadnya yang ditujukan pada bhuta bucari di natar sanggah, kala bucari di natar pekarangan, dan durga bucari pada lebuh atau depan pekarangan. Selain itu bhuta yadnya dilakukan juga sesuai dengan tingkatan kahyangan tiga dan kahyangan jagat.


Adapun upakara yang dipakai dalam Bhuta Yadnya tergantung dari besar kecilnya upacara yang dijalankan. Untuk yang sederhana seperti segehan, caru mancawarna, segehan  agung  dan yang untuk lebih besar atau dengan tujuan tertentu seperti pancasata, panca sanak, panca kelud, tawur agung dll. Dalam pelaksanannya sring dilengkapi dengan penggunaan api takep dan tetabuhan. Api takep dipakai dari dua kupak serabut kelapa yang peletakanya secara bersilangan seperti tapak dara. Sedangkan tetabuhan memakai lima macam zat cair yaitu tuak, arak, berem, air dan darah. Penggunaan darah dalam hal ini sering disebut sabuh rah. Dalam pelaksanaannya masing masing zat cair itu dipercikkan tiga kali, demikian pula darah, dicipratkan tiga kali dengan memotong ayam, itik atau babi butuan. Untuk memperolh tiga kali cipratan maka dipotong bagian leher, dan dua sayap atau dua kakinya. Sabuh rah ini berkembang mnjadi perjudian yang sangat merugikan ajaran suci hindu. Sebagian orang memanfaatkannya sebagai lahan perjudian yang sangat mencemarkan nama baik agama di mata umat lain. 

Fungsi Upakara

Dalam kehidupan Hindu di Bali , masyarakat tidak terlepas dari kehidupan kagamaan yng berkembang sesuai dengan adat istiadat di tempatnya. Dalam mlakukan korban suci atau yadnya , umat hindu khususnya di bali lebih banyak melakukan daalm bentuk banten/upakara. Banten adalah wujud korban suci kepada Hyang Widhi. Adapun fungsi banten/upakara dalam upacara keagamaan adalah:
  1. Upakara adalah wujud dari cetusan hati untuk menyatakan terima kasih kehadapan Hyang Widhi atas semua anugrahNya, memberikan kehidupan dan segala kebutuhan hidup manusia. Bagi mereka yang menjalani yoga semadhi, banten/upakara bukan syarat mutlak, karena mereka mampu melakukannya dengan tingkat bathin yang tinggi sambil melakukan puasa dan bertapa sebagai wujud cinta kasihnya kpada Hyang Widhi. Bagi mereka yang belum mampu melakukan yoga semadhi, maka banten/upakara adalah cara sederhana dalam mengungkapkan rasa syukurnya kehadapan Hyang Widhi.
  2. Upakara adalah alat konsentrasi pikiran untuk memuja Hyang Widhi. Saat seseorang sedang membuat banten atau upakara ini, maka pikirannya akan selalu tertuju pada Hyang Widhi, secara tidak sengaja mereka selalu memuja Hyang Widhi.
  3. Upakara/ banten adalah perwujudan/tapakan dari Hyang Widhi. Dalam banten di bali, pembuatannya memakai bahan yang melambangkan dewa-dewa tertentu, misalnya kelapa wujud Dewa Brahma, air wujud Dewa Wisnu dll.
Dalam upacara keagamaan di Bali, banten / upakara adalah syarat mutlak yang diperlukan agar pemujaan kepada Hyang Widhi dapat kita lakukan sesempurna mungkin. 
Dalam Bagawad Gita ada sloka yang berbunyi:

PATRAM PUSPAM PHALAM TOYAM 
YO ME BHAKTYA PRAYACEHATI
TAD AHAM BHAKTYUPAHRTAM
ASNAMI PRAYATATMANAH 
Artinya:
Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan kepadaKu daun, bunga, buah, atau air, yang didasari cinta kasih dan keluar dari hati, Aku terima.

Sanggah Kamulan

Sanggah kamulan berasal dari gabungan kata sanggah dan kamulan. Sanggah sama dengan sanggar yang artinya tempat pemujaan. Kamulan , kata dasarnya ' mula ' yang artinya sumber atau asal. Jadi Sanggah Kamulan dapat diartikan sebagai Tempat Pemujaan kepada asal kita sebagai manusia.

Lontar Siwagama:
" ...bhagawan Manohari, Sivapaksa sira, kinwa kinon de Sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadharmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang saduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Mwang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggarpratiwi wangunen ika, mwang kamuln panunggalanya sowang..."
artinya :
" Bhagawan Manohari pengikut Siwa, beliau disuruh oleh Sri Gondarapati, untuk membangun sad kahyangan kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban orang semua. Lain kewajiban sekelompok orang untuk empat puluh keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian itu yakni duapuluh keluarga, harus membangun ibu, dan Kamulan satu-satunya tempat pemujaan yang harus dibangun pada masing-masing pekarangan...."

Kamulan dimaksudkan untuk selalu ingat kepada sumber atau asal manusia. Manusia dalam bahasa Sanskrit berasal dari kata ' jatma' yaitu ' ja + atma '. Ja berarti lahir, sedangkan atma artinya roh. Jatma atau manusia adalah roh yang lahir. Maka dapat disimpulkan bahwa manusia hidup karena adanya roh yang lahir. Jadi yang menjadi sumber asal manusia adalah roh itu sendiri.

Lontar Usana Dewa:
"Ring kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring kaulan tengen bapa ngarang sang Paratma, ring kamulan kiwa ibu ngaran sang Siwatma, ring kaulan tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa, meraga Sang Hyang Tuduh..."
artinya:
"Pada sanggah kamulan beliau  bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang kamulan kanan ayah, namanya Sang Hyang Paratma. Pada kamulan kiri ibu, disebut Sivatma. Pada kamulan ruang tengah diri-Nya, itu Brahma, menjadi purusa pradana berwujud Sang Hyang Tuduh ( Tuhan Yang Menakdirkan )..."

Lontar Gong Wesi:
"...ngaran ira Sang atma ring kamulan tengen bapanta, nga, Sang Paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, Sang Sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dad meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal, nunggalang raga...."
artinya:
"... nama beliau Sang Atma, pada ruang kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Paratma, pada ruang kamulan kiri ibumu, yaitu Sang Sivatma, pada ruang kamulan tengah adalah menyatu menjadi Sang Hyang Tunggal, menyatukan wujud...."

Lontar Purwa Bumi Kamulan:
" Riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntun akena maring Sanggah Kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya nguni.."
artinya:
" Setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sang Hyang Kamulan, kalau bekas roh itu laki naikkan pada ruang kanan, kalau roh tiu bekas perempuan dinaikkan disebelah kiri, disana menyatu dengan leluhurnya terdahulu"

Dalam Siwa Tatwa, sanggah kamulan dapat diwujudkan sebagai perwujudan Tri Murti, yaitu Brahma sebagai atma ( ANG ), wisnu sebagai antaratma ( UNG ) dan iswara sebagai Paramatma ( MANG ). Ketganya adalah roh alam semesta sebagai perwujudan dari Hyang Widhi. Perwujudan itu dari aspek horisontal, sedangkan dari sudut pandang vertikal Hyang Widhi diwujudkan dalam Tri Purusa yaitu Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa. 

Dari uraian lontar-lontar itu dapat diambil kesimpulan utama adalah, fungsi sanggah kamulan adalah untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai asal muasal manusia , dan sebagai tempat pemujaan roh leluhur agar mencapai penyatuan dengan sumbernya yaitu Hyang Widhi ( moksa ).

YANG PALING SERING DIBACA